Jogja, Never ending stories.....
Kurang lebih 3 tahun lalu, aku pernah menginjakkan kaki di kota ini
yah meskipun bukan yang pertama kalinya..
tapi setiap kali aku berkunjung ke kota ini
ada saja cerita indah, lucu, sedih, yang kutorehkan disini
di Jogja..
aku belajar hidup mandiri.
untuk pertama kalinya aku hidup sendiri
jauh dari orang tua
di Jogja
aku belajar arti persahabatan dan perjuangan
untuk pertama kalinya aku berkumpul dengan teman-teman baruku
yang sama-sama berjuang untuk meraih mimpi-mimpi kami
di Jogja
aku bertemu dengan orang-orang hebat
orang-orang yang mengajarkanku bersikap lebih dewasa
orang-orang yang mengajarkanku arti hidup
orang-orang yang mengajarkanku untuk tidak manja
di Jogja
aku menikmati keramahan dan kerendahan hati masyarakatnya
setiap kali aku mendapat kesulitan,
nyasar, gak tau jalan pulang, gak tau letak tempat dimana yang harus kutuju
selalu ada tangan-tangan terbuka yang siap membantu
teman kos yang baru kutemui saat itu juga, langsung menjadi akrab
dan selalu siap menawarkan bantuan buatku yang masih amat sangat newbie di Jogja
di Jogja
aku menikmati kehangatan tiap sudut kota Jogja
aku menikmati keakraban dan kebersamaan
yah.. dimanapun banyak tempat disini untuk berfellowship bersama teman-teman
di Jogja
aku belajar arti mencintai dan dicintai
hehehe galau? jatuh cinta? patah hati?
aku rasakan disini
semua perasaan campur aduk jadi satu
ya tapi kini tinggallah kenangan indah dan
aku selalu ketawa geli kalau mengingatnya
di Jogja....
terlalu banyak cerita yang kuukir disini
senang, sedih, galau, ceria, yah.... mungkin tak bisa satu persatu di urai
saat aku harus pergi dari kota ini
really hard to say goodbye to Djogkdja
Tapi... life must go on
jika ingin naik tingkat ke yang lebih tinggi
mungkin Tuhan punya rencana lain di tempat dimana aku sekarang
but... I never forget my lovely Jogja
Jogja will always stay in my heart...
I miss you Jogja
I miss every moments
Happiness, Sadness, love and friendship, and many things
I'll forget the sadness, forget.........
and I'm ready to face my life. I'm ready to catch my dreams, my future...
bye :')
Monday, October 29, 2012
Tuesday, October 16, 2012
long time not see :D
Hello world!! I come back :)
Do you miss me? *hehe*
yah, udah lama gak menjamah blog alay ku ini.. kenapa? sibuk? *enggak juga* yaa males aja, lagi gak ada inspirasi buat nulis.
sebenernya banyak cerita bahagia, sedih, lucu, menyebalkan hingga memalukan yang pengen aku ceritain. tapi masih belum ada moodbooster untuk menulisnya..
Oke cukup dulu basa-basinya..
Do you miss me? *hehe*
yah, udah lama gak menjamah blog alay ku ini.. kenapa? sibuk? *enggak juga* yaa males aja, lagi gak ada inspirasi buat nulis.
sebenernya banyak cerita bahagia, sedih, lucu, menyebalkan hingga memalukan yang pengen aku ceritain. tapi masih belum ada moodbooster untuk menulisnya..
Oke cukup dulu basa-basinya..
***
Gak kerasa loh udah tingkat 3 sekarang, dan yang lebih gak kerasa lagi udah dua bulan aku menjalani peran sebagai mahasiswa tingkat akhir daaaan bentar lagi UTS menanti di depan mata. Yap. kelas baru, teman baru, dosen baru, mata kuliah baru, pacar baru *eh*
Kristal. Keluarga Istimewa Tiga L. Senang menjadi bagian dari kelas ini. Ya walopun sampe sekarang masih belum nge"blend" tapi kesan pertama masih baik. Buat belajar asik, buat main juga asik. Sepanjang tengah semester ini kami sudah sering jalan2 bareng, mulai karokean bareng, ice skating bareng, futsal, badminton, sampe galau bareng di monas sampe pagi. haha
Ya semoga kami bisa tetep kompak deh, sampe lulus nanti..
*bersambung....... (sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan)*
Tuesday, August 7, 2012
dik Nita
Dik NITA namanya, gadis kecil ini baru duduk di TK nol besar, tapi sudah harus merasakan kerasnya sebuah kehidupan. Disaat teman seusianya bermain selepas pulang sekolah, dia sudah harus bekerja dengan setia memunguti botol plastik bekas di area Candi Ratu Boko Jogja, nantinya botol plastik bekas itu dicuci dan dijual lagi
masih banyak dik Nita yang lain, yang harus mengorbankan masa kanak-kanaknya demi melanjutkan kehidupan keluarganya. Yah, apa yang bisa kita lakukan? hanya merasa kasihan? atau sekadar menyalahkan pemerintah yang (katanya) kurang peka sama kondisi masyarakat kini?
hanya diri kita sendiri yang mampu menjawabnya :)
Ini adalah sedikit gambaran yang aku dapat saat berkunjung ke Candi Boko di Jogja. Sedih, kasihan, miris, trenyuh,.. ya! semuanya jadi satu. Tapi itulah kehidupan. Hal ini yang buat aku tetap bersyukur atas hidup yang sudah Tuhan anugerahkan padaku saat ini. Gak bisa ngebayangin kalau aku ada di posisi dik Nita ini.
Jadi ingat lagunya One Way, "Bagaimana dengan mereka"
Jadi ingat lagunya One Way, "Bagaimana dengan mereka"
Oh betapa indahnya hidup kita jalani
tiada waktu terlewat tanpa bahagia
mari lihat ke luar,
terkadang kita lupa,
kita tak sendiri,
menikmati indahnya hidup yang diberikan,
oleh Sang Pencipta.
bagaimana dengan mereka yang menjerit karena lapar,
dan hidup dari belas kasihan orang s'perti kita,
bagaimana dengan mereka yang tak punya apa-apa,
apa yang t'lah kita buat,
kar'na kita diciptakan,
untuk berbagi hidup dengan mereka.
Friday, July 27, 2012
Becoming a woman of excel :)
A woman of excellence
is what I long to be
filled with Your Godly wisdom
so it is part of me
a woman of integrity
no matter what I face
standing up for righteousness
and for Your saving grace
a woman of destiny
living in your plan
knowing where You had have me walk
being guided by Your hand
a woman of promise
standing on Your word
holding on to all the truths
while carrying out Your work
a woman of compassion
for the ones in the dark
those that do not know Your love
and have darkness in their hearts
a woman that will never compromise the faith
with what the world may offer
but will keep the narrow way
a woman who loves Jesus
and will only follow Him
gladly to give up the world
so His light can shine with me
Lord, this is my earnest prayer
as a daughter by Your grace
grow in me the qualities as I walk with you in faith
Amen :)
^.^
-tia-
Tuesday, July 24, 2012
Kemana, larinya Indigenous Knowledge Indonesia?
ini adalah artikel yang pernah aku buat untuk tugas suatu mata kuliah. Yah, walaupun masih belum bisa dimuat di media cetak nasional, paling enggak bisa nampang di blog sendiri juga udah lumayan. hehe.. Sebagai pemula, dan saya bukanlah analis yang hebat harap maklum kalau kurang berkenan. :)
Ini hanya sekadar celotehan anak kecil :)
oiya, special thanks to Mr. Thomas, my inspiration. Terima kasih buat bimbingan, saran, dan kritik serta apresiasinya. Maaf kalau saat ini belum bisa dimuat dimedia cetak, saya akan mencoba terus! :)
***
Kemana, larinya Indigenous Knowledge Indonesia?
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sering terjadi
konflik pengakuan kebuadayaan antara Indonesia dan Negeri Jiran Malaysia. Kabar
terbaru ialah klaim atas tari Tor-Tor dan Paluan Gondang Sambilan dari Tanah
Batak yang rencananya akan didaftarkan oleh pihak Kementerian Penerangan,
Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia untuk mengikuti Section 67 Akta Warisan
Kebangsaan 2005. Pihak Malaysia berani mendaftarkan keduanya (Tor tor dan
Gondang Sambilan) menyusul pernyataan Konvensi Geneva yang menyebutkan bahwa
kedua hasil budaya tersebut belum dimiliki oleh siapapun.
Kasus
tersebut bukanlah kasus pertama yang menyeruak di media massa. Sebelumnya
konflik pengakuan budaya juga sudah sering terjadi di antara keduanya. Mulai
dari Tari Pendet asal Bali dan juga Lagu Daerah Maluku, Rasa Sayange yang
disertakan dalam iklan pariwisata mereka, “Malaysia Truly Asia”, klaim atas
batik, Reog Ponorogo, hingga kunyit dan rendang yang juga mencoba “diakui”
sebagai khas negeri Jiran tersebut. Sikap negara tetangga itu atas budaya
Indonesia sontak saja menuai berbagai response negatif dari masyarakat
Indonesia. Marah, terkejut bahkan mungkin rasa heran muncul dari benak seluruh
masyarakat Indonesia melihat sikap Malaysia. Parahnya lagi, sebagai negara yang
terdekat dan serumpun, yang memiliki
banyak kesamaan budayaan bahasa, mungkin saja bila budaya Melayu nya pun sama.
Tapi Malaysia tidak hanya mengklaim budaya yang ada unsur-unsur Melayu nya
saja, tetapi juga budaya yang sebenarnya tidak ada unsur dan hubungannya sama
sekali dengan budaya melayu, misalnya lagu rasa sayange dari Maluku, Reog
Ponorogo dari Jawa Timur, dan juga alat musik anklung dari Jawa Barat.
Terlepas
dari semua pembelaan dan pembenaran yang dilakukan oleh Malaysia,
bermacam-macam pendapat yang dilontarkan oleh masyarakat Indonesia dari
berbagai golongan yang menyatakan bahwa sebaiknya pemerintah mematenkan seluruh
budaya asli Indonesia sebelum di klaim oleh Negara lain. Sebenarnya pemerintah
bukannya terkesan lambat dalam meresponi kasus klaim budaya ini. Dalam
prakteknya, memang tidaklah mudah dan semudah yang dibayangkan untuk
mendaftarkan budaya suatu Negara kepada PBB, dalam hal ini UNESCO (United Nations Educational, Scientific, dan
Cultural Organization). Organisasi Pendidikan Kebudayaan PBB itu memiliki aturan
dan prosedur tertentu yang terkait dengan pengakuan kepemilikan budaya atas
suatu Negara. Jadi, tidak serta merta hanya dengan membuat list budaya milik Indonesia dan kemudian disetujui oleh Internasional.
UNESCO tentunya akan melakukan observasi dan analisis atas budaya yang
didaaftarkan tersebut. Penelitian atas asal-usul budaya yang kemudian akan
dinilai dengan bukti-bukti yang mendukung serta dinilai juga upaya pemerintah
mengakui budaya tersebut, merupakan salah satu prosedur utama yang harus
dilakukan
Sebenarnya
tidak harus semua budaya di daftarkan pun, suatu Negara sudah secara otomatis
memiliki hak cipta atas budaya tersebut dengan sendirinya. Ada satu hal yang
mungkin kurang familiar di telinga
masyarakat kita, yaitu dengan adanya indigenous knowledge atau kearifan lokal.
Indigenous knowledge didefisikan
sebagai suatu pengetahuan yang khas dan dalam suatu masyarakat atau kelompok
masyarakat tertentu. Dalam proses penemuan suatu budaya berharga bisa saja
ditemukan dengan prosees yang tidak disengaja. Nenek moyang menemukan suatu
alat musik dari bambu misalnya, yang kemudian digunakan dalam upacara adat
serta mewariskannya turun temurun hingga zaman modern seperti sekarang. Maka
dari itu berawal dari kearifan lokal inilah, suatu budaya dapat menjadi ikon
suatu komunitas masyarakat tertentu. Kearifan lokal pada umumnya tidak
tersurat, ia lahir dan berkembang di daerah pedesaan yang bahkan terpencil yang
masih bersifat tradisional.
Seperti
yang diketahui oleh dunia Internasional bahwa Indonesia memiliki beragam suku
dengan berbagai budaya asli mereka yang berasal dari warisan nenek moyang
mereka masing-masing. Mulai dari lagu rakyat, seni tari, cerita rakyat, rumah
adat, pakaian adat, dan tradisi adat mereka masing-masing. Inilah yang disebut indigenous Knowledge. Bahkan Indonesia
sendiri menempati peringkat ke 39 se-dunia dalam “World Cultural Heritage”
versi “World Economic Forum”. Kekayaan budaya ini sangatlah disayangkan bila
masyarakatnya bahkan pemerintah tidak menjaga kearifan lokal yang dimilikinya.
Lebih lagi, kini indigenous knowledge sudah
diakui oleh internasional sebagai hak cipta ekslusif suatu Negara atau sebagai intellectual property rights. Perlindungan
terhadap hak cipta kebudayaan dalam indigenous knowledge ini juga sangat
dilindungi oleh payung hukum internasional, salah satunya oleh UNESCO dalam World Forum on the Protection of Folklore. Di
Indonesia sendiri, kearifan lokal dituangkan dalam undang-undang hak cipta atas
hak kekayaan intelektual. Jadi, sebenarnya bisa saja pemerintah Indonesia
mengajukan keberatan dan laporan atas klaim budaya milik Negara Indonesia atas
Negara lain tanpa harus mendaftarkan ataupun mematenkan budaya tersebut. Toh, indingeneous
knowledge sudah cukup memberikan payung perlindungan atas budaya yang di
klaim tersebut. Upaya pematenan budaya hanyalah salah satu upaya untuk
mendapatkan pengakuan tertulis atas budaya tersebut.
Zaman
globalisasi yang semakin menghilangkan “batas-batas” Negara, mengharuskan kita,
sebagai masyarakat yang hormat dan cinta pada tradisi pendahulu-pendahulu kita,
untuk terus melakukan upaya perlindungan, pemeliharaan, pemanfaatan, inovasi
dan pencegahan perampasan oleh pihak-pihak yang tidak berhak atas kearifan
lokal Indonesia. Kita harus berbangga dan berbesar hati memiliki negeri yang
kaya akan budaya. Terdengar klise memang, tapi memang seperti itu keadaannya.
Kita harus mau memulai untuk mencintai budaya kita dan memperkuat indigenous knowledge. Sehingga tanpa
adanya pengakuan dan pematenan pun, Negara lain akan takut dan merasa enggan
untuk “merampasnya”.
Lihat
saja salah satu contoh nyata yang ada di Indonesia, yaitu barongsai. Budaya
masyarakat Tionghoa ini sudah lama ada di Indonesia dan juga Malaysia. Bahkan
barongsai sering dimainkan dan dipertunjukkan dalam hari-hari besar suatu
daerah di Indonesia. Namun hingga kini belum pernah ada yang mengklaim atas
budaya Tionghoa itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukan karena budaya kurang
menarik untuk diklaim atau hal lain, melainkan karena adanya indigenous knowledge yang baik dan berakar kuat dari masyarakat
Tionghoa itu sendiri, menjadi kunci utamanya Sehingga tanpa adanya pematenan di
dunia internasional, indigenous knowledge
secara tidak langsung membuat mindset
masyarakat dunia mengatakan bahwa barongsai sama dengan masyarakat
Tionghoa.
Kembali
kepada berbagai kasus klaim Malaysia, yang dapat dilakukan ialah mengkesplorasi
kembali kearifan lokal yang sudah ada ini agar kembali diakui oleh dunia. Pemerintah
juga sudah harus memulai mengambil langkah-langkah konkret melakukan konservasi
budaya, bisa melalui pendidikan, penelitian dan pengembangan terhadap budaya
khas Indonesia. Semuanya itu butuh proses yang cukup lama. Membangun rasa cinta dan memiliki terhadap
budaya sendiri juga perlu ditanamkan dan dipupuk dalam komunitas masyarakat
Indonesia agar bisa tetap memajukan eksistensi kebudayaan Indonesia ditengah
globalisasi zaman. Bangsa yang besar
adalah bangsa yang mencintai budayanya.
***
Martina Dwi Pramesthi
Saturday, July 21, 2012
saya bangga jadi anak mereka (bapak ku dan ibu ku)
pas tadi nonton TV, lihat ada sekelompok orang yang peduli sama anak-anak disabilitas, ya mereka yang luar biasa dan perlu perhatian khusus. Terus aku nyeplos "aku salut deh sama orang-orang yang mau ngurusin mereka, pasti sabar banget :')" Terus temenku jawab: "ya, kayak orang tua mu lah, Ya"
*oiya* aku baru inget bahwa aku punya dua sosok hebat dalam hidupku, dan harusnya aku boleh berbangga. Ya bapak sama ibu! Beliau berdua udah lama bekerja di suatu sekolah luar biasa (SLB) yang mungkin gak semua orang mau ambil profesi itu. Setiap hari dihadapkan dengan mereka yang perlu perhatian khusus, mereka yang disabilitas.
(aku gak boleh nyebut merekacacat ataupun terbelakang atau autis atau lainnya. Orang tua ku yang ngajarin aku untuk pake bahasa yang lebih halus. karena pada dasarnya mereka itu sama kaya kita yang normal, sama-sama manusia yang punya hak hidup)
*back to topic again*
aku salut dan super bangga sama kedua orangtua ku yang memilih profesi ini. Gak gampang lho! jadi pernah waktu itu ada seorang siswa nya yang belajar dirumah kami, setiap disuruh ngerjain soal matematika dia pasti nangis dan muntah-muntah. nah, mau gak mau ibu ku membujuk dan merayu nya agar mau ngerjain dan belajar matematika. selain itu, beliau juga harus membersihkan muntahannya itu (*hiaks* kalau aku sih jijik). Belum lagi ibu juga pernah cerita kalau murid-muridnya sering pub diccelana, dan beberapa hal unik lainnya.
Ya, bapak dan ibu ku hebat! Bapak ngajar spesialisasi tunanetra. Beliau ngajarin murid-muridnya nulis braille, baca braille, ngajarin jalan, dan lainnya. kalo ibu, di spesialisasi tunagrahita (ya mereka yang perlu kebutuhan khusus dalam belajar). Sungguh pekerjaan yang mulia, yang mungkin gak seberapa bayarannya. Tapi, bapak dan ibu sudah cukup senang kalau melihat murid-muridnya berhasil nantinya, paling enggak bisa mandiri ngurus diri mereka sendiri.
Pernah suatu kali, ketika kami makan bersama di sebuah rumah makan, kami bertemu dengan salah satu murid Bapak yang sudah sejak lama diajarnya, yang kini jadi seorang juru parkir. Mungkin gak seberapa, kalau di mata kita. Tapi.. bagi bapak, itu sudah capaian yang luar biasa, ketika siswanya bisa mandiri mencari uang sendiri, dan tentunya masih ingat dengan gurunya. aku melihat ada raut bangga dan terharu diwajah beliau ketika bertemu dengan muridnya ini. dan muridnya itu pun masih ingat sama kakakku *padahal kakakku pun udah lupa*
Ada juga, murid bapak sama ibu yang kini sudah sukses buka toko, jadi fashion designer, jadi model, jadi pegawai restoran, ikut berlayar jadi pelaut, dan beberapa lainnya. Kata bapak sama ibu : mereka bisa baca tuli hitung. itu udah lumayan.
Ya, sekali lagi aku sangat bangga dengan bapak dan ibu yang mendedikasikan hidupnya untuk membentuk generasi penerus bangsa. Mereka yang disabilitas juga punya hak sebagai penerus bangsa, mereka aset bangsa yang berharga.
Kalau melihat mereka yang disabilitas, membuatku jadi selalu merasa bersyukur atas kondisiku saat ini. Terlebih sangat bersyukur menjadi anak dari bapak dan ibu ku :)
*oiya* aku baru inget bahwa aku punya dua sosok hebat dalam hidupku, dan harusnya aku boleh berbangga. Ya bapak sama ibu! Beliau berdua udah lama bekerja di suatu sekolah luar biasa (SLB) yang mungkin gak semua orang mau ambil profesi itu. Setiap hari dihadapkan dengan mereka yang perlu perhatian khusus, mereka yang disabilitas.
(aku gak boleh nyebut mereka
*back to topic again*
aku salut dan super bangga sama kedua orangtua ku yang memilih profesi ini. Gak gampang lho! jadi pernah waktu itu ada seorang siswa nya yang belajar dirumah kami, setiap disuruh ngerjain soal matematika dia pasti nangis dan muntah-muntah. nah, mau gak mau ibu ku membujuk dan merayu nya agar mau ngerjain dan belajar matematika. selain itu, beliau juga harus membersihkan muntahannya itu (*hiaks* kalau aku sih jijik). Belum lagi ibu juga pernah cerita kalau murid-muridnya sering pub diccelana, dan beberapa hal unik lainnya.
Ya, bapak dan ibu ku hebat! Bapak ngajar spesialisasi tunanetra. Beliau ngajarin murid-muridnya nulis braille, baca braille, ngajarin jalan, dan lainnya. kalo ibu, di spesialisasi tunagrahita (ya mereka yang perlu kebutuhan khusus dalam belajar). Sungguh pekerjaan yang mulia, yang mungkin gak seberapa bayarannya. Tapi, bapak dan ibu sudah cukup senang kalau melihat murid-muridnya berhasil nantinya, paling enggak bisa mandiri ngurus diri mereka sendiri.
Pernah suatu kali, ketika kami makan bersama di sebuah rumah makan, kami bertemu dengan salah satu murid Bapak yang sudah sejak lama diajarnya, yang kini jadi seorang juru parkir. Mungkin gak seberapa, kalau di mata kita. Tapi.. bagi bapak, itu sudah capaian yang luar biasa, ketika siswanya bisa mandiri mencari uang sendiri, dan tentunya masih ingat dengan gurunya. aku melihat ada raut bangga dan terharu diwajah beliau ketika bertemu dengan muridnya ini. dan muridnya itu pun masih ingat sama kakakku *padahal kakakku pun udah lupa*
Ada juga, murid bapak sama ibu yang kini sudah sukses buka toko, jadi fashion designer, jadi model, jadi pegawai restoran, ikut berlayar jadi pelaut, dan beberapa lainnya. Kata bapak sama ibu : mereka bisa baca tuli hitung. itu udah lumayan.
Ya, sekali lagi aku sangat bangga dengan bapak dan ibu yang mendedikasikan hidupnya untuk membentuk generasi penerus bangsa. Mereka yang disabilitas juga punya hak sebagai penerus bangsa, mereka aset bangsa yang berharga.
Kalau melihat mereka yang disabilitas, membuatku jadi selalu merasa bersyukur atas kondisiku saat ini. Terlebih sangat bersyukur menjadi anak dari bapak dan ibu ku :)
Childlike NOT Childish!
"kamu tuh childish banget sih!" pernah gak dibilang kayak gitu?
kalo aku jawabnya : pernah! bahkan seringkali.
Tapi, menurutku aku sendiri gak begitu childish deh (pencitraan), bersyukur aku masih bisa mandiri dan gak annoying. Ya memang sih aku masih sering nonton film kartun sejenis Spongebob di usia ku yang sekarang sebagai mahasiswi *abis lucu sih, emang salah gitu?*. Tapi apakah itu aja yg jadi parameter untuk layak dibilang childish?
Well, we were all born a child. Kita semua pasti pernah merasakan jadi anak-anak. Kita pun pasti udah puas bisa merasakan bahagianya masa-masa kecil kita. Bisa manja-manjaan sama ortu, ngambek seenaknya, nangis kapan aja, dan ngusilin temen-temen kita :p. But as time goes by, manusia beranjak dewasa dan harus menjalani fase hidup yang lebih serius dan penuh tanggung jawab. Tapi kadang gak sedikit dari kita (bahkan aku juga) masih belum realize kalo ini tuh udah saatnya aku moveon dari masa anak-anak.
Ya seperti kebanyakan manusia, paling susah kalo disuruh bersyukur. Dulu waktu kecil pengen cepet-cepet sekolah, begitu masuk TK, pengen cepet-cepet masuk SD, begitu SD pengen cepetan SMP, terus ngeliat kakak-kakak SMA pengen juga cepet-cepet SMA, pengen cepet-cepet kuliah, begitu kuliah pengen cepet-cepet kerja, nikah, punya anak 2 *eh* Tapi saat kita udah mencapai yang diinginkan sering kan pengen kembali kemasa lalu. Kayak sekarang nih, dulu waktu SMA aku pengen banget bisa cepet-cepet kuliah. kayaknya keren gitu bisa jadi anak kuliahan, bosen 12 tahun jadi anak sekolahan. Tapi.. setelah jadi anak kuliahan, eh pengen lagi balik SMA bahkan pengen lagi balik jadi anak TK.
Nahlo, pernah gak ngerasa gitu? Nah itu, artinya belum bisa nerima kenyataan kalau kita udah beranjak dewasa dan punya tanggung jawab besar sama hidup kita sendiri nantinya.
*back to topic*
So, what is childish? Honestly, it’s not easy defining what childish is. Childish itu beda banget sama child-like, atau sifat-sifat yang yang dipunyai anak-anak, kaya innocent, trusting, unfeigned, dan pure. Childish punya konotasi negative, dimana seseorang yang udah dewasa masih bersikap immature dan sering bertingkah kaya anak-anak. Berikut ini nih beberapa ciri-cirinya:
- Manja! Maunya serba dilayani dan gak mandiri. Sering ngeluh kalau ketemu sesuatu yang bikin repot atau gak nyaman
- Irresponsible. Sering lalai ngerjain kewajiban dan tanggung jawab. Kalau melakukan kesalahan, nggak mau nanggung resikonya
- Self-Centered. Kalo pengen sesuatu harus segera terpenuhi (emangnya bayi). Nggak mau ngalah dan selalu memikirkan dirinya sendiri.
- Gampang Ngambek. Moody! Gampang marah, dan mudah tersinggung sampai kadang-kadang jadi cengeng.
- Love to play around Selalu ingin bersenang-senag. Nggak punya pendirian alias plin-plan. Susah ngambil keputusan dan sering terpengaruh sama omongan orang lain
- Too lazy too think. Terlalu males buat mikir, bikin target hidup, atau melakukan tindakan untuk mewujudkan keinginan.
Childish boleh aja, bahkan emang perlu untuk beberapa situasi. Tapi childish yang berlebihan lama-lama bikin sebel juga yang denger dan ngadepinnya!
Aku jadi inget sama statement dari salah satu dosenku: "Jangan matikan sifat anak kecil Anda!" Ya. sifat anak kecil bukan sifat kekanak-kanakan. It means CHILD-LIKE NOT CHILDISH! ya sifat anak-anak yang seperti di gambar di atas emang perlu dikembangkan. sifat imajinatif buat hidup kita lebih hidup, gak monoton! Jujur juga sangat perlu dikembangkan.
Sometimes, kita memang nggak perlu terlalu serius menanggapi kehidupan. Sisi kekanak-kanakan kita bisa bikin hidup lebih berwarna dan bahagia. Maka itu, boleh aja sekali-sekali manja-manja sama pacar (kalo punya), nggak mau ngalah kakak/adik, atau being spontaneous sekedar untuk bersenang-senang sama teman-teman. Tapi karena kita udah bukan anak-anak lagi, hal tersebut harus di seimbangkan dengan sikap dewasa. Yaitu dengan smart dalam memposisikan diri. Termasuk menahan sifat kekanak-kanakan yang kadang suka muncul di waktu yang nggak di duga. So, pada dasarnya, you need to be childish, sometime asal tujuannya dan waktunya tepat, juga nggak ngerugiin orang lain.
It’s Not Easy Being Adult!
Waktu kecil, kita pengen cepet-cepet gede, tapi pas gede pengen jadi anak kecil lagi. Hmhhhh…..dari pada holding on to your comfort-child-zone, mendingan persiapkan diri menghadapi usia dewasa. Semuanya butuh proses. Sama seperti bejana yang sedang dibentuk mau jadi apa nanti, tergantung dari kita menyikapi hidup :)
Akupun masih berusaha untuk bisa menjadi dewasa, mengurangi image childish, dan berusaha menjadi seorang wanita dewasa yang tetep cute and childlike :3
Subscribe to:
Posts (Atom)


